RAKERNAS PP IAI: Menanti Kejutan Lompatan Berpikir Dalam Penguatan Organisasi

Aminullah
Dosen Fakultas Farmasi Unhas
Sekretaris Pengurus Daerah
Ikatan Apoteker Indonesia Sulawesi Selatan

Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia (PP IAI) menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas). Sekali dalam setahun. Dipusatkan di Hotel Lombok Raya, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Sidang komisi dan sidang pleno diagendakan pada Rabu, 28 Agustus 2024.

Mengacu pada ART IAI Hasil Kongres XXI Pasal 25. Rakernas sangat strategis dalam Ikatan. Tujuannya: menetapkan keputusan-keputusan ikatan yang bukan menjadi kewenangan Kongres. Disamping itu, mengevaluasi pelaksanaan program ikatan, anggaran pendapatan dan belanja Ikatan.

Tidak bisa dipungkiri, pasca implementasi Undang-Undang Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, cukup berpengaruh bagi Ikatan. Organisasi harus cepat beradaptasi. Anggota harus cepat beralih menggunakan berbagai aplikasi baru. Hingga hari ini, belum tuntas. Layanan keanggotaan perlu terobosan menyelesaikan masalah ini.

Tentunya, ini menjadi tantangan bagi Ikatan dan pengurusnya. Solusinya dapat ditemukan di Rakernas ini. Harapannya, rakernas ini, lebih dari sekedar rakernas. Rakernas ini akan melahirkan ide-ide cemerlang, berbagai lompatan-lompatan berpikir. Meminimalkan ceremony dan memaksilkan ide-ide untuk membuat terobosan-terobosan dalam organisasi.

Apa Perkembangan Terkini di PD IAI Sulawesi Selatan?

Banyak hal menarik di Sulsel. Salah satunya, terbentuknya 3 Perhimpunan level PD. Pertama kali dalam sejarah IAI. Belum pernah didengar terbentuk di level PP, PD dan PC lainnya di Indonesia. PD IAI Sulsel mengkaji dan merespon cepat permasalahan kesehatan. Sebagai Ikatan beranggotakan ribuan apoteker di Sulsel. Potensi besar ini harus diberdayakan dalam berkontribusi memberikan solusi terhadap masalah kesehatan bangsa.

Diawali dengan kajian analisis kebutuhan, kolaborasi dengan pihak-pihak terkait. Selanjutnya, mengadakan pelatihan hingga pemilihan pengurusnya. PD IAI Sulsel telah membentuk 3 Perhimpunan level PD yaitu (1) Perhimpunan Apoteker Penyuluh Antinarkoba PD IAI Sulsel, (2) Perhimpunan Apoteker Penyuluh Tuberkulosis PD IAI Sulsel, dan (3) Perhimpunan Apoteker Pendamping Proses Produk Halal (PPH) PD IAI Sulsel.

PD IAI Sulsel juga sangat memahami pentingnya dan cepatnya perkembangan era digitalisasi. Meresponnya dengan mengelola portal berita: www.kareba-iai.id dengan tagline Apoteker Sulsel Untuk Dunia. Kegiatan menarik lainnya: saat ini, dalam proses penyusunan Buku Bunga Rampai: Pemikiran Apoteker Sulsel Untuk Indonesia. Saya sampaikan terobosan ini, agarr menjadi inspirasi dan motivasi dalam Ikatan untuk memperkuat kolaborasi dan jejaring dalam internal Ikatan sendiri.

Menanti Lompatan Berpikir dan Terobosan Organisasi

Forum Rakernas ini menjadi ajang yang tepat. Merenung dan mengkaji lebih dalam Ikatan. Melihat dari semua sisi-sisi Ikatan. Mengkaji dari sudut pandang yang berbeda. Memahami dengan baik, akar masalah yang dihadapi sehingga menemukan solusi yang tepat. Biasanya ini dianggap sepele dan terlupakan, sehingga solusinya tidak pas menyelesaikan akar masalah.

Saya belum beruntung mengikuti Rakernas ini. Banyak hal yang sy pertimbangkan. Salah satunya, kas organisasi sudah tidak baik-baik saja. Namun, saya sadari. Walau di luar forum, saya masih bisa berkontribusi dengan membuat tulisan dari sudut pandang pemikiran saya sendiri. Sudut pandang saya: Ada 10 catatan yang saya anggap penting menjadi topik diskusi, disela-sela coffee break.

Pertama, memperkuat koordinasi Ikatan dari level PP, PD, PC, seminat dan perhimpunan. Saya terkadang heran, hingga saat ini, belum ada yang meng-inisiasi untuk membentuk grup whatsapp resmi oleh PP yang berisi pengurus inti/harian dari seluruh PP, PD, PC, seminat dan Perhimpunan. Bagi saya, ini wajib dibuat untuk lebih memperkuat koordinasi,berbagi informasi, dan setiap saat dapat mengevaluasi ikatan. Konsolidasi tidak perlu lagi terlaksana dengan bertemu langsung, tetapi setiap saat melalui grup atau media sosial lainnya.

Kedua, mengevaluasi capaian, target, dan strategi dari Restra Ikatan. Forum ini sangat penting untuk mengevaluasi capaian, target dan strategi baik dari level PP, PD, PC, seminat dan perhimpunan. Saat ini, hanya ada renstra 1 periode kepengurusan. Hingga 2026. Nah, penting sekali untuk menyusun Peta Jalan pengembangan IAI. Meliputi: jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang, hingga 2045. Indonesia Emas. Peta ini, tidak hanya menjadi petunjuk untuk jalan bersama, tetapi lebih dari itu, akan menjadi strategi jitu dalam mencapai tujuan organisasi yang lebih besar. Hanya saja, pengurus dan anggota perlu mengetahuinya. Saya yakin, mungkin pengurus sendiri, banyak yang tidak pernah membaca AD/ART dan Restra ikatan.

Ketiga, Setiap PD muncul dengan 1 program unggulan skala nasional. Rakernas ini mendorong agar setiap PD wajib memiliki 1 program unggulan yang berskala nasional. Akan diikuti oleh seluruh teman sejawat apoteker di Indonesia. Kesan selama ini, program nasional itu hanya ada di PP. Tugas PP untuk menyusun kalender kegiatan PP-PD Tahun 2025 yang disosialisasikan ke seluruh teman sejawat. Disamping, menguatkan koordinasi apoteker di Indonesia, maka PD akan bergairah muncul dengan branding-nya. PD IAI Sulsel memiliki banyak ide untuk menyelenggarakan kegiatan berskala nasional, apalagi dengan terbentuknya 3 perhimpunan baru yang menjadi branding, hanya ada di Sulsel. Kegiatan tersebut dilakukan secara online atau offline.

Keempat, Minimnya teman sejawat membayar iuran di SIAP. Kas menurun drastis dan butuh pendekatan berbeda agar teman sejawat kembali bergairah membayar iuran dengan penuh kesadaran. Masalah serius. Perlu dirumuskan dengan cermat.

Selama ini, organisasi dimanja dan tergantung penuh dengan iuran. Trend teman sejawat membayar iuran melalui SIAP tahun 2020-2023 menunjukan peningkatan setiap tahunnya. Kas ikatan menjadi sehat. Nah, tahun 2024 ini, sudah mengalami ujian. Teman sejawat yang membayar iuran, tinggal hitungan jari. Kas organisasi terjun bebas. Disisi lain, sudah ada perencanaan berbagai kegiatan, plus kebutuhan untuk gaji staf dan kebutuhan rutin yang sudah memiliki sekretariat. Menurunnya teman sejawat membayar iuran karena sudah tidak ada lagi hal mengikat yang membuatnya tersandera sehingga harus membayar iuran.

Rakernas ini perlu merumuskan masalah ini dengan serius dan cermat. Butuh pendekatan dan pola pemikiran yang baru untuk mengatasinya. Salah satu alternatif pemikirannya, besaran iuran ini perlu diubah. Dibuatkan kelas-kelas sesuai kemampuan ekonomi teman sejawat. Misal besaran iuran teman sejawat yang bekerja sebagai pengusaha, pejabat, pegawai dibuat berbeda dengan apoteker yang baru berpraktik di apotek, apalagi apoteker lulusan baru. Memungkinan dibuatkan ada 7 (tujuh) kelas berdasarkan estimasi penghasilannya. Kelas tertinggi akan mensubsidi kelas terendah.

Kelima, mulai terjadi kasus: teman sejawat mutasi tanpa melalui SIAP. Tanpa melapor sama pengurus PD dan PC. Baik asalnya maupun tujuann mutasinya yang baru. Implementasi dari UU Kesehatan Nomor 17 Tahun 2023, dimana pendataan teman sejawat melalui aplikasi kemenkes belum sejalan dengan verifikasinya di lapangan. Beberapa teman sejawat memanfaatkan belum sempurnanya sistem ini. Banyak mutasi tanpa melalui lagi aplikasi SIAP. Bahkan, mereka mulai berpraktik lintas kabupaten dan provinsi tanpa melapor ke pengurus setempat. Indikasinya, mereka pindah tanpa melapor karena menghindari tagihan iuran dari SIAP. Syarat mutasi dengan menyelesaikan iuran terlebih dahulu. Teman sejawat mutasi menghindari pelunasan iuran dalam sistem, tanpa disadari iuran ini akan terus bertambah setiap tahunnya. Masalah ini perlu dirumuskan solusinya sehingga teman sejawat kembali satu pintu dalam layanan SIAP.

Keenam, jangan tergantung sama iuran, fokus untuk membangun unit usaha berjejaring. Ikatan perlu memikirkan sumber penghasilan selain iuran. Dengan modal yang ada saat ini, maka sebenarnya ikatan ini punya potensi besar untuk menjalankan berbagai unit usaha secara profesional. PP sebagai induk usaha, dapat membangun unit usaha berjejaring dengan PD, PC bersama seminat dan perhimpunan. Disisi lain, PP mendorong juga PD, PC, seminat dan perhimpunan untuk mandiri membangun unit usaha untuk ikatan.

Ketujuh, Ikatan serius menangani masalah layanan anggota. Respon cepat keluhan anggota. Memang ini membutuhkan tim kerja teknis untuk beberapa bulan bekerja. Sebagai pengelola SIAP di Sulsel, masalah serius yang dihadapi saat ini ialah teman sejawat yang terdaftar di plataran sehat belum mencapai 40%. Sisi lainnya, SKP yang diakui hanya yang dikeluarkan oleh pemerintah. Ribuan anggota belum terdaftar di plataran sehat, ini akan jadi masalah serius kedepannya. Pengurus perlu fokus beberapa bulan ini, melakukan pendampingan agar teman sejawat terdaftar di plataran sehat untuk memenuhi kebutuhan SKPnya. Ini masalah serius yang perlu dipikirkan solusinya.

Beberapa permasalahan bisa ditangani oleh admin PD. Namun, lebih banyak masalah yang perlu dibantu oleh admin PP untuk dikoordinasikan ke Kemenkes. PP harus serius masalah ini. Salah satu alternatif solusinya, misal dengan merekrut teman sejawat dari setiap PD untuk dilatih sebagai admin PP yang bekerja 3-6 bulan melakukan pendampingan.

Kedelapan, kolaborasi serius antara IAI dan APTFI dalam mengatur sebaran apoteker di Indonesia. Ini masalah serius. IAI sudah memiliki data apoteker di Indonesia melalui SIAP. Perlu diskusi panjang dengan APTFI untuk mengambil keputusan penting demi kebaikan sistem pendidikan Farmasi di Indonesia. Standar sebaran apoteker dapat mengikuti standard Indonesia Sehat atau standard WHO. Tentu sudah terpikirkan, apa yang terjadi, jika apoteker di atur persebarannya di Indonesia?. Positif untuk menjaga marwah profesi apoteker. Langkah awal dapat dimulai dengan pembuatan aplikasi khusus mengenai titik lokasi apoteker berdasarkan domisi dan tempat kerjanya.

Tentunya, untuk mengatur persebaran Apoteker ini, butuh kerja keras, berkelanjutan dan strategi berkelas. Butuhkan kolaborasi, pendekatan banyak pihak dan butuh lobby-lobby tingkat tinggi sehingga kebutuhan apoteker semakin meningkat di masyarakat. Tantangannya, apoteker hanya akan meninggalkan zona nyaman di perkotaan, apabila disertai imbalan yang sepadan. Data SIAP menunjukkan, Apoteker berada di kota—kota besar dengan jumlah yang sangat banyak, tidak memenuhi lagi standar sebaran apoteker mengacu ke WHO. Nah, masalah ini sangat serius. Butuh lompatan berpikir.

Kesembilan, sekali lagi memperkuat kolaborasi IAI dan APTFI. Jangan terpisah. Saling mendukung. Misalnya untuk pelaksanaan kegiatan Rakernas dan PIT setiap tahun secara bersama. Maka, bisa mengubah polanya. PP menyelenggarakan kegiatan ini dengan berkoaborasi dengan APTFI. Rakernas PP dilaksanakan oleh panitia lokal PD dan PC setempat. Sedangkan PIT di kelola oleh kampus setempat bersama seminat dan perhimpunan sehingga bisa menekan biaya dan menjaga marwah ilmiahnya.

Kesepuluh, membentuk bidang khusus untuk mewujudkan Apoteker Berkarakter. Mencermati jumlah program studi Farmasi di Indonesia yang berpotensi membuka program studi apoteker. Jumlah lulusan apoteker nantinya, setiap tahun dengan jumlah lulusan sangat besar. Saat ini, lulusan apoteker sekitar 8.000-9.000 setiap tahunnya. IAI dan APTFI perlu dengan tegas mengkaji kebutuhan apoteker di Indonesia. Dengan pertambahan jumlah apoteker yang sangat besar setiap tahunnya, penulis memahami perlu ada satu bidang atau lembaga khusus yang dibentuk menjadi jembatan antara Dewas dan MKEAI untuk membangun apoteker-apoteker berkarakter di Indonesia.

Sebagai peserta di luar sidang, saya menaruh harapan besar kepada semua peserta Rakernas hari ini. Fokus mengikuti kegiatan. Merumuskan ide-ide besar yang dinanti oleh seluruh teman sejawat Apoteker di Indonesia.

Selamat Mengikuti Rakernas dan PIT 2024,
IAI-ku selalu di hati
Saya bangga, Saya Apoteker

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *